KRISISINYA PENGGUNAAN BAHASA SESUAI KAIDAH DAN BAKU DI KALANGAN ANAK MUDA JAMAN SEKARANG

Mata Kuliah             : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia

Dosen                        : Lisa Septia Dewi Br.Ginting

Nama Mahasiswa    : Purnama

NIM                           : 221214012

Kelas                          : PBSI Semester 6

 

TUGAS ESAI KRITIS

TEMA: Kritik terhadap Pergeseran Fungsi Bahasa Indonesia akibat Pengaruh Bahasa Asing dan Daerah

JUDUL: Krisisinya Penggunaan Bahasa Sesuai Kaidahb Dan Baku Di Kalangan Anak Muda Jaman Sekarang

 


Seperti yang kita ketahui, di era minlenial sekarang atau sering disebut dengan eranya Gen Z pasti tak pernah luput dari bahasa-bahasa baru dan juga nyeleneh. Dengan berkembangnya zaman ini, bahasa Indonesia berkembang cukup baik ke arah positif maupun negatif. Situasi saat ini layanan bahasa Indonesia dengan bahasa asing mulai berubah dan ada perilaku yang cenderung  menambahkan  istilah  asing,  meskipun  ada  padanan  dalam  bahasa  Indonesia  karena  sikap percaya  terlihat  modern  atau  mencolok.  Diperbarui  dan  dilatih  untuk  menggunakan  istilah  atau  bahasa untuk  berkomunikasi  dalam  interaksi  sehari-hari.  Hal  ini  berimplikasi  besar  terhadap  keberadaan  bahasa Indonesia.  Generasi  milenial  sendiri  merupakan  masa  peningkatan  penggunaan  dan  keakraban  dengan komunikasi  digital,  media  dan  teknologi  seperti  saat  ini.  Generasi  yang  hidup  di  era  milenial  memiliki karakter yang cukup berbeda. Ia sudah menggunakan gawai atau handphone sejak sekolah dan menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok, selalu terkoneksi dengan internet agar bisa mengakses hal-hal baru atau sekedar  bersosialisasi  dan  chatting  di  media  sosial.  Generasi  saat  ini  disebut  sebagai  dengan  generasi milenial(Assapari, 2014).

Hal  ini  sejalan  bahwa  bahasa  adalah  bagian  dari  kebudayaan  dan  bahasalah yang  memungkinkan pengembangan kebudayaan  sebagaimana  kita  kenal  sekarang.  Bahasa  juga  dapat  berfungsi  sebagai  sarana integrasi  sosial  dan  penyesuaian  sosial,  mengingat  masyarakat  Indonesia  memiliki  bahasa  yang  majemuk. Menurut Wibowo(2001)bahasa adalah suatu sistem makna dan artikulasi (dihasilkan oleh alat-alat ujaran), lambang-lambang  bunyi  yang  arbitrer  dan  konvensional  yang  digunakan  oleh  sekelompok  orang  sebagai alat komunikasi untuk menciptakan perasaan dan pikiran.ഠO

Mengenai  dengan  penggunaan  bahasa  di  kalangan  millennial Bahasa  gaul  adalah  bahasa  yang termasuk sebagai krisisnya. bahasa yang di modifikasi dan di sepakati oleh orang sekitar untuk di gunakan pada saat berkomunikasi dengan orang sekitar, bahasa gaul menjadi bahasa yang sering digunakan generasi milenial  karena  terdapat  ke-kemodernan dan  terdapat  kemudahan  pada  saat  penggunaannya.  Bahasa  gaul menjadi salah satu faktor pendorong berkurangnya penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Generasi  milenial  sering  kali  menggunakan  bahasa  yang  tidak  baku  pada  saat  berkomunikasi  di lingkungan terutama pada saat berkomunikasi dengan teman sebayanya.

Generasi milenial memiliki stigma bahwa  menggunakan  bahasa  yang  terlalu  baku  terlihat  seperti  kekota-kotaan  dan  terlalu flat dalam berkomunikasi,  stigma  ini  lah  yang  perlu  di  ubah  guna  membentuk  generasi  yang  menjunjung  tinggi identitas  negara  yaitu  Bahasa  Indonesia.  Generasi  milenial  sering  menggunakan  bahasa  yang  tidak  baku seperti “Bahasa Gaul’’. Bahasa gaul merupakan bahasa yang di terapkan oleh generasi milenial pada saat berkomunikasi hal ini di sebabkan oleh banyak nya penggunaan bahasa gaul yang di lakukan oleh kondisi di  sekitar,  sehingga  bahasa  gaul  menjadi  sangat  luas  penggunanaanya,  yang  mengakibatkan  adanya  krisis penggunaan bahasa yang baku.

Berbahasa  yang  baik  ialah  berbahasa  sesuai  dengan  lingkungan  atau  tempat  bahasa  itu  digunakan. Dalam  hal  ini  ada  beberapa  faktor  yang  menjadi  penentu.  Yang  Pertama,  orang  yang  berbicara.  Kedua, orang  yang  sedang  diajak  berbicara.  Ketiga,  situasi  tersebut  formal  atau  nonformal.  Dan  yang  ke  empat, masalah  dan  topik  pembicaraan.  Sedangkan  bahasa  yang  dikatakan  baik  dan  benar  adalah  bahasa  yang sesuai  dengan  kaidahnya,  aturannya,  dan  bentuk strukturnya.  Jika  berbicara  bahasa  Indonesia,  bahasa bakunya harus sama dengan bahasa yang aturannya tertulis di buku tata bahasa yang bersangkutan. Kalau malah  menggunakan salah satu dialek,  misalnya dialek  Bandung harus benar-benar bahasa Bandung  yang digunakan  oleh  penduduk  asli  Bandung,  begitulah  sebenarnya  arti  kata  tersebut.  Meninggalkan  suatu kebiasaan  yang  telah  menjadi  tradisi  akan  berdampak  besar  dalam  keberlangsungan  hidup  masyarakat tersebut.   Begitu   juga   yang   akan   terjadi   pada   bahasa   Indonesia   yang   disempurnakan   jika   semakin ditinggalkan  oleh  masyarakatnya.  Efek  negatif  yang  terlihat  secara  online  adalah  menurunnya  nilai kesopanan di kalangan anak muda saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Pada saat yang sama, hal ini secara  tidak  langsung merugikan  bahasa  nasional  itu  sendiri.  Mungkin  masih  bisa  berbahasa  Indonesia yang baik dan benar di tahun-tahun mendatang, tapi bagaimana dengan 50 tahun ke depan? Masih bisakah Indonesia bertahan? Atau tersesat dalam bahasa gaul? Ini adalah kewajiban kita sebagai remaja  Indonesia dan juga sebagai pelajar yang masih tertarik dengan bahasa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa "gaul" telah  merusak  dan  merusak  bahasa  Indonesia.  Oleh  karena  itu,  sebagai  generasi  muda,  mari  kita  jaga  dan lestarikan bahasa Indonesia.

Sekarang anak muda banyak yang jarang menggunakan Bahasa baku atau bahkan tidak pernah jika bukan di dalam situasi formal. Bahkan yang mana Bahasa baku itu diharuskan untuk dipergunakan di kehidupan sehrai-hari, malah sekarang jadi di pandang aneh oleh Sebagian orang. Seperti contohnya jika kita menggunakan Bahasa baku kepada teman sejawat dengan kalimat “Kamu udah makan?”, “Bagaimana kegiatanmu hari ini? Apakah menyengangkan?”, nah jika kita melontarkan pertanyaan tersebut kepada teman-teman sejawat kita, kita akan ditertawakan atau bahkan kita akan di anggap ‘alay’ oleh teman tersebut. Itulah salah satu contoh yang banyak terjadi di sekitar kita

Penggunaan kata ‘lo’, ‘gue’ juga seperti tak pernah akan hilang dari pendengaran kita, terkhususnya dikalangan ibukota. Keadaan seperti menjadi terbalik, yang mana seharusnya Bahasa baku menjadi keharusan malah menjadi Bahasa gaul yang menjadi keseharusan dalam berbicara. Ini berdampak pada anak yang menjadi penerus jika Bahasa baku tidak dilestarikan dan dipergunakan, anak-anak sekarang dan yang akan datang menjadi buta kosakata baku yang ada di dalam Bahasa Indonesia.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan membiasakan mereka mendengar dan menggunakan bahasa baku sejak kecil. Orang tua dan guru bisa menjadi contoh dengan berkomunikasi menggunakan bahasa yang lebih formal di situasi tertentu. Misalnya, dalam kegiatan belajar atau saat menulis sesuatu yang bersifat resmi. Selain itu, memperkenalkan buku, film, atau konten digital yang tetap menarik tetapi menggunakan bahasa baku juga bisa membantu mereka terbiasa.

Kalau pendekatannya terlalu kaku, anak-anak malah bisa jadi makin malas belajar. Makanya, penting untuk membuat pengalaman belajar bahasa baku jadi menyenangkan. Misalnya, dengan permainan kata, menulis cerita, atau lomba debat. Dengan begitu, mereka bisa belajar tanpa merasa terpaksa.

Selain itu, mereka juga perlu diberi pemahaman bahwa bahasa baku itu penting, terutama untuk keperluan formal seperti saat menulis laporan, melamar pekerjaan, atau berbicara di depan umum. Kalau mereka tahu manfaatnya, mereka akan lebih termotivasi untuk menggunakannya di situasi yang tepat.

Pada akhirnya, bukan berarti mereka harus selalu berbicara dengan bahasa baku setiap saat, tapi setidaknya mereka tahu kapan dan di mana harus menggunakannya. Dengan cara yang santai tapi tetap efektif, anak-anak bisa lebih menghargai dan menguasai bahasa baku tanpa merasa terbebani.

 

 

 

Referensi:

Susanti, D. I. (2011). Peranan Bahasa Indonesia di tengah maraknya penggunaan bahasa asing. Deiksis3(04), 365-378.

Azizah, A. R. A. (2019). Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa gaul di kalangan remaja. Jurnal Skripta5(2).

Purnamasari, A., Amin, M., Lingga, L. J., & Ridho, A. (2023). Krisis Penggunaan Bahasa Indonesia di Generasi Milenial. ANTHOR: Education and Learning Journal2(1), 14-18.


Komentar

  1. dikalangan anak muda skrng sudah minim menggunakan bahasa Indonesia yang baku semoga blogger ini bermanfaat untuk anak muda

    BalasHapus
  2. masyaallah kaa purnem, terima kasih ilmunya😘😘

    BalasHapus
  3. masyallah sangat bermanfaat bagi kalang remaja sekarang

    BalasHapus
  4. Sangat Berguna Untuk Banyak Orang 🗿

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer